Sebagus Apa Film yang Dinominasikan Untuk Academy Awards 2019

Sebagus Apa Film yang Dinominasikan Untuk Academy Awards 2019

Sebagus Apa Film yang Dinominasikan Untuk Academy Awards 2019 – Sesudah nominasi Piala Oscar dipublikasikan, silahkan kita kupas satu demi satu delapan film yang masuk kelompok film paling baik.

The Favorite

Film online terbaik dan terbaru yang di sutradara Yorgos Lanthimos (The Lobster) memperoleh lima bintang dari kritikus film kami, Nicholas Barber, yang memvisualisasikan film ini jadi satu film yang “kotor, penuh kekerasan, serta satu komedi yang kelewatan dengan lontaran beberapa kata kasar dan tingkah laku yang bahkan juga lebih jelek .

Ini akan membuat jijik siapa saja yang awalannya menduga ini ialah film drama konvensional mengenai kehidupan kerajaan” – walau “anehnya, menyentuh”.

Berlatar dalam suatu istana punya Ratu Anne (dimainkan aktris Olivia Colman, yang terima nominasi aktris paling baik untuk peranannya itu) diawalnya era ke-18, “cerita penuh intrik politik serta sex ini menggedor beberapa ketentuan film drama yang kental faktor kostum-kuno-dengan-kereta-kuda-dan-rumah-pedesaan”.

Naskahnya yang “pintar” serta “tampilan beberapa aktor yang pada dasarnya, mengagumkan” pastikan jika tidak ada satu juga ciri-ciri – termasuk juga dua ciri-ciri yang dimainkan Emma Stone serta Rachel Weisz, dimana kedua-duanya memperoleh nominasi jadi aktris simpatisan paling baik Oscar – yang cuma berbentuk satu dimensi.

Walau film ini dapat disalahtafsirkan jadi satu pantomim vulgar, Nicholas memiliki pendapat jika cerita film ini sebetulnya berasa seperti tragedi: “Bila saja perempuan-perempuan ini dapat bekerja bersama bukannya sama-sama bermusuhan, mungkin mereka dapat sampai suatu yang lebih, kan?”

Green Book

Didasarkan pada figur serta insiden riil, cerita mengenai seseorang pianis kulit hitam (dimainkan Mahershala Ali yang dinominasikan untuk kelompok aktor simpatisan paling baik) yang menyewa layanan tukang jam kelab malam berkulit putih (dimainkan Viggo Mortensen yang dinominasikan untuk kelompok aktor paling baik) untuk mengawalnya tour ke Amerika Selatan yang tersegregasi di tahun 1962 cuma mendapatkan dua bintang dari kritikus film kami, Caryn James.

Dia memiliki pendapat jika “cuma orang yang tidak pernah melihat film, yang tidak dapat menerka ke mana arah narasi pasangan aneh, film komedi pertemanan, ini akan berbuntut.”

Beberapa aktornya lah yang membuat Green Book “wajar saksikan serta sering menghibur, di luar begitu gampangnya cerita ini ditebak serta beberapa kekurangannya yang begitu kentara” – menurut James, “Kedatangan Ali begitu kuat hingga cukup dengan sekali tatap, dia dapat membawakan kedalaman peranan serta pemikirannya, serta dapat membawakan satu ciri-ciri lewat cara yang tidak dapat dikatakan oleh satu skenario.”

Meskipun begitu, beberapa hal itu kurang untuk selamatkan film yang dilukiskan Caryn “bermandikan klise”: sebaliknya, menurut dia, Green Book”jadi bukti jika satu film bisa jadi begitu diakui pada musim penghargaan walau bukan film yang betul-betul bagus.”

Black Panther

Film pahlawan super pertama yang dinominasikan untuk kelompok Film Paling baik ini adalah film tersukses di box office Amerika Serikat – serta disanjung Nicholas sebab mempunyai “visi yang radikal, bahkan juga, lebih radikal dari film-film blockbuster Hollywood yang lain”.

Sang sutradara sekaligus juga penulis, Ryan Coogler (Creed), menceritakan Wakanda, satu negeri ultra-moderen utopis yang tersembunyi di Benua Afrika, jadi “film Bond yang Afrosentris” yang lalu menjadi film fantasi-fiksi ilmiah.

Untuk menciptakannya, Nicholas berasumsi, Ryan lalu “memperhatikan tiap jenis film dimana orang kulit hitam umumnya mainkan ciri-ciri sambilan, lalu, dengan penuh kecerdasan serta keberanian, dia mengombinasikan semua jenis barusan serta tempatkan ciri-ciri berkulit hitam pas di dalam pergerakan narasi”.

Dengan sebagian besar pemain berkulit hitam, menurut Nicholas, film blockbuster ini merubah semuanya. “Bertanya dirimu sendiri: kapan akhir kali kamu melihat film, baik yang di produksi studio Hollywood ataulah bukan, yang tempatkan satu negara Afrika jadi negara paling bahagia, paling makmur, serta paling maju di planet Bumi?”

Roma

Roma, film yang diperuntukkan untuk perawat Alfonso Cuarón- sutradara sekaligus juga penulis skenarionya, ialah film yang cantik disaksikan dari sisi mana juga, menurut Caryn yang memandang film ini memiliki hak mendapatkan lima bintang.

Mainkan ciri-ciri seseorang pembantu rumah tangga dalam suatu keluarga yang tinggal di Mexico City pada masa 70-an, aktris Yalitza Aparicio (yang nyatanya tidak pernah berakting awalnya, tetapi barusan diganjar nominasi Aktris Paling baik) “tunjukkan berlapis-lapis emosi saat ciri-khasnya bergelut hebat dengan fakta waktu dia mengerti jika dianya hamil, lalu ditinggal pergi sang kekasih”.

Ia lalu tumbuh jadi “figur wanita biasanya sekaligus juga menjelma jadi figur pahlawan yang tegar serta kuat.”

Cuarón (yang dengan pribadi terima empat nominasi Oscar jadi produser, sutradara, penulis skenario, sinematografer) membuat “gambar-gambar yang istimewa serta kompleks” sekaligus juga “momen-momen sehari-harinya yang alami”.

Ia “menyulap memorinya sendiri jadi satu fiksi yang memikat, lalu memberinya pada pemirsa seperti satu hadiah”.

Buat Caryn, Roma jadi film garapan Netflix pertama yang masuk kelompok Film Paling baik, ada penuhi eksepaktasi serta sambutan khalayak. Dia menggambarkannya jadi “film terindah serta paling artistik tahun ini”

BlackKklansman

“Mungkin ini film paling baik Spike Lee sesudah sekian tahun,” demikian vonis Emma Jones buat film yang diambil dari cerita riil seseorang polisi keturunan Afrika-Amerika serta partnernya yang keturunan Yahudi waktu menyelinap ke grup Ku Klux Klan di tahun 70-an.

Tidak hanya “diatur dengan rapi, dicatat dengan baik, serta lepas dari topik ceritanya, sering kelewatan lucunya”, film ini penuh style dengan memberikan “tribut buat serial detektif keturunan Afrika-Amerika di tahun 70-an, Shaft”.

Lee “jelas rasakan jika langkah untuk melawan rasisme dengan menertawakannya” – tetapi kandungan humor tersebut tidak menutupi ceritanya, dengan momen-momen dimana nuansa narasi beralih, seperti saat Lee mengkontraskan pergerakan Kemampuan Kulit Hitam (Black Power) dengan pergerakan Kemampuan Kulit Putih (White Power).

“Ini ialah blockbuster-nya film Amerika,” tutur Emma

Bohemian Rhapsody

Nicholas memberikan tiga bintang saja buat film biopik Freddie Mercury ini – tetapi dia mencurahkan seluruh puja-puji buat tampilan aktor Rami Malek yang bertindak jadi pentolan band Queen yang kharismatik.

Menurut dia, film ini “kelihatan seperti opera sabun siang bolong serta berjalan dengan jalur yang sama dengan film-film biopik bintang rock awalnya”.

Diluar itu, menurut Nicholas, rating 12A/PG13 (wajar dilihat beberapa anak diatas 12 tahun serta dibawah pengawasan orang-tua) pada film ini mengundang banyak protes, sebab “sebenarnya, sang tokoh penting tidak memiliki moral hingga dia bisa jadi mengajarkan mereka berperilaku seperti Casanova”.

Walau punggawa film ini mengerti semua permasalahan itu – “Mamma Mia, pasti tidak” – sang bintang penting masih wajar terima nominasi aktor paling baik: “Malek jadikan peranan itu kepunyaannya: dia terlihat terasuki ciri-ciri Mercury, baik jadi penampil yang ciri khas dengan bibir manyun serta style bersoleknya di muka umum, kepribadian yang murung serta kehilangan jati diri waktu sendiri”

A Star Is Born

Tiga bintang yang lain diserahkan kepada film garapan Bradley Cooper, yang membuat lagi film tahun 1937 berjudul sama – pembuatan lagi ke empat semenjak film aslinya launching, yang mendapatkan nominasi Academy Award untuk kelompok Film Paling baik (atau kelompok ‘Produksi Terbaik’ seperti dahulu diketahui).

Menurut Nicholas, “A Star Is Born memberikan perhatian yang mengagumkan untuk membuat adegan malam dimana ke-2 sejoli berjumpa serta berkeluyuran bersama dengan, tetapi lalu bergerak cepat telusuri kehidupan profesional serta pribadi kedua-duanya seperti sebatas ingin menunjukkan foto-foto berlibur seorang.

Film ini tidak menggali lebih dalam hal siapa mereka, apa yang mereka kehendaki.”

Meskipun begitu, film ini mempunyai banyak hal yang pantas diapreasiasi, diantaranya tampilan Lady Gaga (penerima nominasi Aktris Paling baik Oscar) – yang “begitu memikat, terlepas, serta rendah hati dalam peranan penting pertamanya hingga dia memiliki hak pilih film gangster atau komedi romantis mana saja yang ditawarkan padanya. Lepas dari itu semua, seseorang bintang film sudah lahir.

Vice

Film biografi mengenai Dick Cheney karya Adam McKay – yang menyutradarai The Big Short – terima tiga bintang dari Nicholas.

Ia memiliki pendapat jika ada “banyak runtutan tindakan kebodohan lelaki serta keyakinan diri yang terlalu berlebih” demikian pula “gimik post-modern” seperti “adegan-adegan penuh khayal, monolog yang tembus dinding ke empat (lihat langsung mengarah camera), sulih suara penuh ironi, bahkan juga secuil dialog bau Shakespeare”.

Meskipun begitu, Vice berasa “lebih konsentrasi serta asik daripada film McKay’s awalnya sebab film ini terkonsentrasi pada kehidupan seseorang pria yang nyentrik serta dapat disebut legendaris”.

Christian Bale (nominator Aktor Paling baik Oscar) jalani transformasi fisik – yang telah jadi ciri khasnya dalam berakting – jadi Cheney – “secara cepat Anda akan berhenti mengerti jika Bale ada dibalik berlapis-lapis lateks serta mulai terima bukti jika dia perlahan-lahan menjadi seonggok telur dengan kacamata yang menempati di atasnya”.

Sesaat Sam Rockwell (yang terima nominasi Aktor Simpatisan Paling baik) “begitu menghibur jadi Dubya (George W. Bush) yang bodoh”.

Menurut Nicholas, film ini bisa jadi dikatakan dengan “amarah membara yang berlarut-larut”, tetapi pendekatan yang McKay kerjakan nyatanya cuma tawarkan pandangan yang hanya terbatas pada figur ciri-ciri penting.

“Vice, dengan semua kejenakaan serta kecermatannya, menunjukkan beberapa batasan yang dipunyai McKay yang diketahui jadi sutradara spesialis non-fiksi satire.”

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *