Baik Buruk Menonton Drama Korea Bagi Psikologis Penonton

Baik Buruk Menonton Drama Korea Bagi Psikologis Penonton

Baik Buruk Menonton Drama Korea Bagi Psikologis Penonton

Baik Buruk Menonton Drama Korea Bagi Psikologis Penonton – Demam Drama Korea atau “Drakor” nyatanya dapat menjangkiti siapapun termasuk juga Puput Nastiti Devi, calon istri bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama BTP.

Drakor demikian memengaruhi kehidupan pribadi seseorang Puput. Hingga, bekas polwan itu menyisipkan kata “Yeobo” jadi panggilan sayang ke BTP. Kata yang sering dipakai jadi panggilan sayang oleh beberapa tokoh di drama-drama percintaan asal Korea Selatan.

Streaming Drama Korea masuk Indonesia pada awal tahun 2000an melalui serial drama berjudul “Endless Love”. Awalnya, drama asal Taiwan “Meteor Garden” mendulang sukses di market Indonesia. Cerita cinta kuras airmata “Endless Love” lalu jadi pintu gerbang buat judul-judul drama korea lain seumpama, “Princess Hours”, “Full House” serta pasti “Boys Before Flowers” tentunya.

Beberapa nama bintang korea Won Bin, Song Seung Hoon, Song Hye Kyo, Lee Min-ho, Kim Bum, Ku Hye Sun serta Lee Min-Jun lalu mempunyai pasarnya sendiri di Indonesia, khususnya di kelompok gadis-gadis remaja serta beberapa ibu muda. Menukar serial melodrama serta telenovela yang menjamur pada masa tahun 90an. Cerita haru, percintaan serta romantisme sebagai daya jual drama korea, lahap dikonsumsi kaum wanita di negeri ini.

Terlepas dari tahun 2010, gelombang musik Korean Pop (K-Pop) yang menyapu semua seluruh dunia termasuk juga Indonesia, membawa juga kultur pergaulan negeri gingseng itu. Bahasa, kuliner, fashion serta bahkan juga pola hidup ala Korea jadi trend di Indonesia. Termasuk drama Korea yang lalu laku manis di market lokal Indonesia.

Fanatisme pada serial drama Korea yang awalnya didominasi remaja putri serta ibu-ibu muda Indonesia, mulai menulari kaum pria. Hal itu dapat dianalisa dari masuknya bahasan masalah cerita di drama Korea dalam percakapan-percakapan sehari-harinya kelompok pria muda serta dewasa.

Menjangkitnya trend drama korea dimaksud Staf Akademik Fakultas Psikologi Kampus Indonesia, Bona Sardo Hasoloan Hutahaean mempunyai dua efek positif negatif buat psikologis serta non psikologis beberapa penikmatnya. Karena itu, diperlukan kecakapan untuk “mengerem” serta batasi masuknya dampak isi narasi ke kehidupan pribadi.

“Pengaruh jelek bisa jadi begitu terokupasi dengan semuanya yang berkaitan drama Korea, hingga begitu mengkaitkan kehidupan riil dengan drama Korea. Jika keterusan, ya mungkin saja ide diri si fansnya akan terusik, sebab begitu mengkaitkan jati diri diri dengan drama Korea,” jelas Bona Sardo pada Tagar News lewat interviu tercatat, Senin siang (28/1).

“Pengaruh lebih baiknya ya bisa jadi jadi belajar kultur berlainan, lebih wacana, mungkin jadi belajar bahasanya, dan sebagainya,” Tambah Bona

Kata Bona, fanatisme fans drama Korea pada kelompok remaja adalah hal yang masih lumrah, tetapi akan adalah satu ketidakwajaran jika fanatisme pada drakor, menjangkit pada kelompok dewasa serta orangtua.

“Jika masih umur remaja, masih dipandang lumrah ngefans sama suatu, sebab si remaja masih juga dalam step penelusuran jati diri diri. Jika telah dewasa, mungkin saja sebab jati diri dianya belum begitu kuat atau semata-mata sebab gampang tenggelam dengan dinamika drakor,” tutur Psikolog multitalenta jebolan arena Indonesian Idol itu.

Mengerti jika drama Korea hanya satu hiburan fiksi, dimaksud Bona dapat menghindari kelompok remaja dari dampak jelek drama Korea. Bona merekomendasikan supaya remaja mencari hiburan serta pekerjaan lain yang berguna tidak hanya menghibur diri serta mencari tahu suatu melalui drama Korea.

“Untuk remaja, sedapat mungkin mengerti meskipun masih penelusuran jati diri diri, sebaiknya terkena dengan beberapa stimulus tidak hanya drakor, jadi proses pembentukan jati diri dianya dapat makin utuh. Untuk yang telah dewasa, harapannya dapat makin rasional untuk memperbedakan mana kehidupan riil serta mana kehidupan drakor. Harusnya individu dewasa kan lebih bijak untuk memisahkan ke-2 ini,”

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *